Peran Pemuda dalam Sejarah Dipersempit
Oleh Wirmanto Suteddy

Peran Pemuda dalam Sejarah Dipersempit

Februari 11, 2014  |  berita

JAKARTA - Sejarawan JJ Rizal menilai ada upaya mempersempit peran pemuda dalam sejarah. Sebab, para pemuda kerap dimitoskan dan dipersempit maknanya.

Dia mencontohkan, gerakan pemuda tahun 1966 yang kemudian dikenal gerakan mahasiswa. "Padahal, bukan hanya mahasiswa, tapi banyak elemen pemuda yang terlibat dalam drama perubahan di era tersebut," ujarnya dalam diskusi bertema 'Anak Muda dan Politik', di bilangan Cikini, Jakarta (9/2).

Rizal mengatakan, pemuda sering berada di posisi vital dalam sejumlah dinamika bangsa. Namun, peran mereka kerap terkungkung terminology politis dan kelas yang sangat sempit. "Yang memaksa Soekarno-Hatta untuk merealisasikan proklamasi secepatnya di era revolusi adalah para pemuda, angkatan 66 dimotori oleh pemuda, begitu juga dalam peristiwa 98," paparnya.

 Di kesempatan sama, Ketua Umum Liga Mahasiswa NasDem, Willy Aditya berpandangan sama. Menurut dia,  kaum muda di Indonesia sering termarjinalisasi dalam politik. "Di era orde baru, pemuda didepolitisasi, dijauhkan dari politik. Sementara saat ini, terjadi proses apolitisasi di dalam generasi muda, mereka menjauhkan diri sendiri dari aktivitas dan pembicaraan tentang politik. lni tidak boleh dibiarkan begitu saja," tegasnya.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP NasDem ini berpandangan, melibatkan peran pemuda dalam politik cukup mendesak, untuk  merubah tradisi politik yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. "Kalau mau berubah, pemuda mau tidak mau harus melibatkan diri. Kalau tidak mau terlibat ya jangan mengharapkan akan ada perubahan," yakin Direktur Eksekutif Populis Institut tersebut.

 Sementara itu, politisi muda NasDem, Lathifa Marina Al Anshori melihat, antusias anak muda pada politik hakikatnya masih besar. Tetapi, lantaran ada jarak antara politisi dengan konstituen muda,
maka menjadi antipati. "Untuk menjembatani perbedaan ini, harus ada tokoh-tokoh muda yang menjadi wakil anak-anak muda, agar semangat pemuda benar-benar bisa terwakili," terangnya.

Alumnus Cairo University ini  menegaskan,  pemuda merupakan pemicu perubahan yang tak tergantikan.  "Ketika saya kuliah di Mesir, pergolakan sedang berada di puncaknya. Kebetulan, saya terlibat langsung dengan pemuda dan mahasiswa pelaku revolusi. Saya melihat semangat yang sama sebenarnya ada di pemuda kita, meskipun dengan kultur yang berbeda," pungkasnya. -

berita sumber : klik disini

0 Komentar pada artikel ini

 

Tinggalkan Balasan

Email yang dimasukkan tidak akan dipublish. Inputan yang bertanda * harus diisi