Timnas U-19, Momentum Kebangkitan Pemuda
Oleh Willy Aditya

Timnas U-19, Momentum Kebangkitan Pemuda

Januari 23, 2014  |  budaya

“Kaum muda adalah aktor-aktor perubahan sepanjang sejarah”

KEMENANGAN tim nasional (timnas) Indonesia U-19 atas Korea Selatan awal Oktober lalu menjadi sejarah bagi sepak bola negeri ini. Betapa tidak, setelah menjadi kampiun dalam Piala AFF 2013 yang menjadi pelipur bagi penantian 22 tahun lamanya, Evan Dimas dan kawan-kawan berhasil menumbangkan tim `Negeri Ginseng’ yang notabene juara bertahan selama 12 tahun di ajang Piala AFC U-19. Ini bukan saja sejarah dalam sepak bola muda Indonesia, melainkan juga kebangkitan sepak bola nasional.

Lebih jauh, prestasi luar biasa dari Evan Dimas dan kawankawan bisa menjadi momentum kebangkitan bagi bangsa ini. Seperti ditandaskan oleh pelatihnya, Indra Sjafrie, Indonesia adalah bangsa besar yang bisa menaklukkan siapa pun. Tentu saja harus ada harga yang dibayar untuk meraih hal tersebut: kerja keras dan kepercayaan diri.

Satu hal penting yang bisa kita petik dari pelatih Indra adalah pembangunan mental bagi anakanak didiknya. Inilah kunci keberhasilan sekaligus kebangkitan yang ditunjukkan oleh Timnas U-19. Tanpa mental yang bagus, hampir musta hil bagi timnas bisa menjuarai Piala AFF dan menang atas Korsel.

Inilah yang tengah hilang kini–utamanya pada generasi muda kita. Sekadar mengambil contoh aktual dari persoalan tawuran yang laten di kalangan kawula muda kita ialah peristiwa penyiraman air keras di bus kota oleh seorang pelajar SMA yang melukai 16 orang. Tentu getir perasaan siapa pun yang mendapati kenyataan itu. Sudah demikian anjlokkah nalar kemanusiaan generasi muda kita karena begitu entengnya mereka merusak kehidupan orang.Laku tanpa nalar sehat seolah lekat dengan mereka.

Laku budaya
Tentu banyak penjelasan terkait dengan fenomena di atas. Namun, jika kita tilik dari kacamata kebudayaan, seperti ada yang bengkok dari perjalanan budaya bangsa ini. Sekolah kita semakin banyak bertebaran, mulai peringkat `diakui’, `disamakan’, hingga yang bertaraf internasional (meski sudah dihapus kemudian). Sekolahsekolah unggulan bermunculan di mana-mana. Kampus-kampus sudah berdiri di setiap kabupaten dan kota, mulai yang negeri hingga yang swasta. Namun, semua itu ternyata tidak berkorelasi positif dengan pertumbuhan mental dan kebudayaan bangsa yang adigung. Kita tidak menemukan jati diri kita sebagai sebuah bangsa di sana. Malah yang marak adalah perilaku yang jauh dari keluhuran.

Jati diri ini yang dalam bahasa Bung Karno disebut sebagai charac ter building. Persoalan character building sudah menjalar pada seluruh aspek kebangsaan kita dewasa ini. Bisa dikatakan, kita tengah kehilangan panduan pembangunan budaya bangsa.

Jika kita simak kronik modernitas di Indonesia, kesadaran akan pembangunan mental bangsa sudah dimulai saat masa pergerakan Indonesia awal abad XX. Berbagai perkumpulan daerah lahir hingga kemudian mereka bertemu pada kesadaran bersama sebagai sebuah bangsa dengan Sumpah Pemuda 1928. Namun hal itu tidak cukup. Kesadaran sebagai sebuah bangsa yang memiliki identitas bersama perlu disemai, dibangun, dan dibentuk.Itulah mengapa ada nation and character building dari Bung Karno seusai kemerdekaan.

Lewat Pancasila dan berbagai proyek politik lainnya, Bung Karno menyemaikan proses pembangunan karakter bangsa. Kehebatan sikap itu tecermin dalam pergaulan internasional lewat Konferensi Asia-Afrika atau Ganefo, misalnya. Hanya, kini Pancasila digunakan untuk menopang kekuasaan yang otoriter. Hasilnya, Pancasila dangkal dipahami dan kering dari dimensi spiritualnya. Kini, kaum muda harus bangkit dan menjadi aktor kembali aktor kembali dalam sejarah perjalanan bangsa.

Program Empat Pilar Bangsa yang digagas mantan Ketua MPR (alm) Taufiq Kiemas cukup kontributif bagi upaya pembangunan kembali mental dan karakter bangsa. Kemunculan kelompok-kelompok politik yang menggagas gerakan perubahan dengan penekanan untuk kembali pada jati diri bangsa, juga cukup signifikan. Semisal, gagasan Restorasi Indonesia, yang bisa kita baca sebagai sintesis atas dialektika perubahan bangsa ini adalah sebuah gagasan yang perlu diapresiasi.

Peran penting kaum muda tidak sekadar sebagai generasi penerus bangsa. Lebih dari itu, kaum muda adalah aktor-aktor perubahan sepanjang sejarah. Kaum muda tidak terlalu sulit dibentuk dan belum terlalu banyak terkontaminasi virus peradaban bangsa yang kumal. Mereka masih bisa diharapkan, mereka masih punya harapan. Tanpa berapriori terhadap pihak mana pun, apa yang menjadi pilihan dari Indra Sjafrie adalah sebuah pelajaran bagi kita. Pelatih kelahiran Februari 1963 ini memilih tetap menangani Evan Dimas cs ketimbang menerima tawaran menangani timnas senior.

Di sisi lain, sebagai orangtua, pelatih Indra telah memperlihatkan sebuah keteladanan yang luar biasa dengan blusukan ke berbagai pelosok negeri untuk mencari bibit unggul, meski tanpa kontrak yang jelas dan tanpa gaji selama setahun. “Ini kerja untuk negara,“ kata Indra.
Sikap patriotik yang amat langka di negara kita.

0 Komentar pada artikel ini

 

Tinggalkan Balasan

Email yang dimasukkan tidak akan dipublish. Inputan yang bertanda * harus diisi