|
|
|
Dari Reformasi ke Restorasi |
|
|
|
|
Written by Willy Aditya
|
|
Sunday, 22 May 2011 17:43 |
|
Hampir setiap negara bangsa (nation state) berpengalaman dalam mengonservasi nilai, identitas, serta jati diri kebangsaan. Proses konservasi itu selalu berupa langkah besar, yang kemudian menjadi gerakan besar suatu bangsa, hasil dialektika dengan kondisi aktual di sekitar. Gerakan-gerakan perubahan lahir akibat adanya persoalanpersoalan kebangsaan. Bangsa Eropa mampu keluar dari abad kegelapan setelah melakukan gerakan besar Aufklarung. Demikian juga gerakan Restorasi Meiji di Jepang, yang hadir di tengah situasi politik yang memburuk akibat politik militer feodal Tokugawa dan ancaman pengaruh Barat yang semakin menguat. Strategi yang berbeda terjadi pada bangsa Tiongkok (China). China saat ini sudah memiliki skema perencanaan jangka panjang hingga 2080. Itu pun dipandang belum mencukupi sehingga masih disusun perencanaan untuk jangkauan lebih ke depan.
|
|
Last Updated on Thursday, 13 October 2011 16:33 |
|
Read more...
|
|
Written by adminpopulis
|
|
Wednesday, 23 March 2011 21:33 |
|
Oleh : David Krisna Alka
Sejarah politik Indonesia pernah memiliki masa saat partai politik diolah secara bermutu dan bernilai. Periode yang disebut demokrasi liberal 1950-an adalah sebuah masa ketika retorika politik diukur berdasarkan kualitas argumen di parlemen, bukan retorika kacangan dan sekadar spanduk partai di jalanan. Kala itu, politik lebih dihayati sebagai inisiasi kebudayaan ketimbang transaksi kekuasaan.
Namun, kini sangat terasa dan tampak jelas politik merupakan pesta kaum elite. Hal itu terlihat dalam wacana seputar perombakan kabinet dan persoalan yang meliputi Sekretariat Gabungan (Setgab). Hiruk-pikuk soal politik ini didominasi oleh penguasa-penguasa dan elite-elite partai. Jadinya, politik terasa nikmat bagi elite, tetapi jauh dari memberi nikmat kepada rakyat.
|
|
Last Updated on Wednesday, 23 March 2011 23:47 |
|
Read more...
|
|
|
Written by Oleh Willy Aditya, Direktur Eksekutif Populis Institute
|
|
Sunday, 20 March 2011 01:47 |
Perbincangan reshuffle kembali mengemuka minggu-minggu terakhir ini. Hal itu dipicu oleh pandangan bahwa pemerintahan SBY tidak mewujudkan orientasinya karena kabinet tidak berfungsi efektif. Pendulum wacana mengarah pada argumen bahwa konsekuensi ketidakefektifan atau kegagalan pemerintah dibebankan pada level menteri, bukan presiden. Dengan kata lain, menterilah yang harus bertanggung jawab atas ketidakefektifan kinerja pemerintah, bukan presiden. Hal itu beranjak dari dikotomi sistem pemerintahan parlementer dan presidensial. Mekanisme impeachment hanya dikenal dalam sistem parlementer, di mana parlemen mewakilkan amanat kekuasaan pada seorang wakil dari partai berkuasa atau koalisi, dan menunjuknya sebagai perdana menteri. Sementara dalam sistem presidensial, presiden dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum (Pemilu), dan hanya bisa diberhentikan melalui mekanisme pemilu berikutnya.
|
|
Last Updated on Thursday, 31 March 2011 03:38 |
|
Read more...
|
|

Moral Kewarganegaraan Satpol PP
oleh : Willy Aditya
Tentu masih ingat di benak kita tentang peristiwa bentrokan berdarah antara warga dan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di kawasan makam Mbah Priok, Koja, Jakarta Utara yang menelan tiga korban jiwa beberapa bulan lalu. Ditengah belum tuntasnya penyelidikan atas kasus Koja tersebut, tiba-tiba pemerintah melalui Permendagri No. 26/2010 justru berencana memberikan izin penggunaan senjata api kepada Satpol PP.
(klik Read More for further read )
|
|
Read more...
|
|
|
|
|
|
|
Page 1 of 2 |